Kekurangan biaya bukan berarti tak bisa meneruskan pendidikan sampai
perguruan tinggi. Sebuah lembaga menawarkan program Mahasiswa Marginal
yang intinya mahasiswa bisa kuliah sambil kerja. Lembaga ini memberi
pelatihan sekaligus modal usaha. Ratusan mahasiswa ekonomi lemah
tertarik mengikutinya.
Di kalangan perguruan tinggi di Medan
(Sumut) ada istilah yang populer yaitu Mahasiswa Marginal (MM). Apa
artinya? "Mahasiswa yang punya potensi, motivasi, dan kreativitas
tinggi. Namun, karena kemampuan ekonomi orang tua rendah, ia gigih
melakukan berbagai usaha untuk memenuhi kebutuhan kuliah lewat usaha
yang digelutinya. Usaha, mereka juga kebanyakan skala kecil," jelas
Iswan Kaputra, salah seorang koordinator program MM.
Program
ini menurut Iswan berawal dari kegelisahan Ir. Soekirman MM karena
pemerintah atau institusi lain kurang memikirkan mahasiswa yang berasal
dari keluarga pas-pasan. Mei 1989, Soekirman bersama rekan-rekannya
mendirikan Yayasan Bitra Indonesia (YBI) untuk membantu mahasiswa
kurang mampu. "Programnya diberi nama Pelayanan Wirausaha Konsultasi
dan Pengembangan Studi Mahasiswa Marginal yang disingkat MM," lanjut
Iswan.
Menurut Iswan, salah satu tujuan program adalah
mengembangkan lapangan kerja di sektor informal untuk meningkatkan
kesejahteraan si mahasiswa. "Juga menumbuhkan jiwa kewirausahaan pada
mahasiswa," cetus ayah dua putra ini. Iswan melanjutkan, "Usahanya
bermacam-macam. Antara lain menarik becak, ternak ayam, jual rokok,
parfum, buku, majalah bekas, loper koran, menjahit dan lain-lain. Ada
63 jenis usaha."
TERGOLONG MAHASISWA GIGIH
Program ini ternyata menarik minat para mahasiswa. Sekarang, ada 234
anggota MM yang terdiri dari mahasiswa PTN dan PTS. "Di antara mereka,
ada 50 yang jadi penarik becak. Jadi, mereka tergolong mahasiswa gigih.
Bayangkan, betapa repotnya mereka sehari-hari bagi waktu antara kuliah,
bisnis, dan berbagai kegiatan lain. Apalagi bagi mahasiswa dari luar
kota yang harus masak dan cuci sendiri," papar Iswan.
Ada
beberapa syarat mahasiswa bergabung dengan YBI. Yang terutama, "Kami
harus tahu mahasiswa itu betul-betul tak mampu dan tidak mendapat
subsidi dari orang tua. Mereka juga sudah memiliki usaha kecil-kecilan
di Medan dan sudah jalan tiga bulan. Nah, mereka kami bantu modal
sebesar maksimal Rp 1,5 juta. Sebelumnya kami membekali dengan
pelatihan, diskusi, magang, dan studi banding."
Syarat lain,
mahasiswa harus sudah semester 2 - 7 untuk S1. Sedangkan mahasiswa D3
semester 2 - 3. IP mereka minimal 2,0. "Mereka juga harus dapat
persetujuan dekan, pembantu dekan, atau ketua jurusan dan disetujui
orang tua," papar Iswan panjang lebar.
Kelebihan program MM,
kata Iswan, mahasiwa tidak memerlukan jaminan aset atau pinjaman.
Mereka hanya dikenakan bunga 12 persen per tahun dalam jangka waktu 6 -
24 bulan. "Jika anggota program membandel mengangsur atau tidak
melunasi, kami nanti menahan ijazah mereka. Itu sebabnya, pihak
fakultas dilibatkan dalam syarat pinjaman kredit," tutur Iswan.
JADI NARA SUMBER
Salah seorang mahasiswa yang ikut program MM adalah Husni Kamarhaban
Siregar (21). Semangatnya untuk maju sudah diperlihatkan sejak STM.
Waktu itu, ia kerja di bengkel. "Lulus STM saya terus memikirkan
bagaimana bisa kuliah. Ayah, kan, sudah pensiun. Ayah hanya bisa
memberikan uang untuk biaya pendaftaran dan uang kuliah pertama saja
sebesar Rp 1 juta. Saran Ayah, saya harus cari biaya sendiri jika ingin
kuliah," ujar pria asal Rantau Prapat ini.
Ibarat pucuk
dicinta ulam tiba, ada teman Husni yang memperkenalkannya dengan
program MM. "Dia sudah duluan ikut program ini. Jadi, saya tahu apa
keuntungannya bergabung," ujar Husni yang memilih usaha ternak ayam
kampung. Ia dapat modal Rp 500 ribu.
Berkat ilmu yang didapat
dari STM, pria yang masih tetap kerja di bengkel ini sanggup membuat
alat penetasan sendiri. Satu kotak berisi 400 - 450 telur. Ia mengaku
tugasnya setiap pagi membolak-balikkan telur ayam. "Biasanya dalam satu
kotak yang rusak cuma 20 butir. Telur ayam yang tidak bisa menetas akan
saya jual," lanjut Husni.
Husni mengaku, ia tidak sulit
memasarkan ayam kampungnya. "Ayam saya sudah ada yang nampung di Pasar
Pagi Brayan," katanya. Ia tinggal menghitung keuntungannya. "Cukuplah
untuk membayar uang kuliah dan kebutuhan sehari-hari," cetus bungsu
dari empat bersaudara ini.
Usaha Husni dipandang cukup
sukses. Terbukti dua bulan lalu ia diminta jadi nara sumber untuk
program acara mahasiswa dan usaha di Istana Radio FM. Sehari setelah
acara mengudara, "Saya ditelepon seseorang. Dia mau memberi pinjaman
dana untuk mengembangkan usaha. Saya juga dikontrakkan rumah," kata
Husni yang sekarang tinggal di rumah kontrakan, tak jauh dari kampusnya
di Jln. Bromo Medan.
Sudah puaskah Husni? "Siapa, sih, orang
yang sudah puas kalau semua yang dilakukan masih setengah jalan. Saya
maunya menyelesaikan kuliah tepat waktu. Ada satu lagi keinginan, saya
ingin buka kafe," harap Husni. Karena sibuk kerja dan kuliah, Husni
ibarat tak punya waktu libur. "Bila pun libur, saya tidak punya waktu
untuk pulang kampung."
PINTAR ATUR WAKTU
Bila Husni memilih usaha ternak, Diny Setianingrum (23) membuka usaha
warung kopi. Selain itu, ia juga ikut Multi Level Marketing yang sudah
ia jalani sejak SMU. "Maklum, sejak SD saya sudah punya jiwa dagang.
Waktu itu, saya ikut tetangga membuat aksesoris. Apalagi, keluarga saya
punya moto tak usah jadi pegawai negeri. Makanya saya ingin
berwiraswasta saja," kisah Diny.
Mahasiswi Fakultas Ekonomi,
Universitas Sumatera Utara ini, berprinsip untuk meraih sukses mesti
melalui berbagai tahapan. "Maksudnya, saya harus ikut pontang-panting
ke lapangan dan harus mau menerima untung cuma seribu rupiah," ujar
Diny yang sejak kelas I SMU sudah ikut berdagang MLM untuk alat
kecantikan. "Dagangan saya yang laris parfum."
Lulus SMU,
Diny mengambil program D3. Meski sudah menyelesaikan pendidikannya
sulung dari lima bersaudara ini belum puas. Ia kuliah lagi di Fakultas
Ekonomi, USU. "Saya ikut kuliah malam ambil program Extension selama
dua tahun. Sekarang baru semester pertama. Untuk tambah biaya, mulai
tahun lalu saya buka usaha warung kopi dekat kampus saya," kata gadis
manis berkulit putih ini.
Meski termasuk anggota MM, Diny tak
perlu pinjam modal. Dari hasil usahanya selama ini, ia sudah cukup
punya modal. Apalagi usaha MLM-nya juga masih berjalan. Ada kiat khusus
yang dilakukan Diny agar usahanya berjalan lancar. "Saya suka ikut
organisasi. Makanya saya jadi banyak teman."
Warga Perumnas
Simalingkar ini menambahkan, ia ingin kuliah dan usahanya berjalan
lancar. Itu sebabnya, ia tak mengeluh meski tak banyak waktu untuk
bersantai. "Kalau masalah itu, sih, pintar-pintar kita mengatur waktu.
Kalau ada urusan yang tidak boleh ditinggalkan, ya untuk urusan lain
disingkirkan dulu. Yang penting semua itu saya lakukan dengan enjoy,"
ujar Diny yang membuka warung bersama kekasihnya, Doli, dan rekannya
Andi Mako.
Dari hasil usahanya, Diny tak sekadar bisa
memenuhi kebutuhan uang kuliah. Ia juga bisa menabung. Tak heran, di
program MM ia ditunjuk jadi relawan. Lantas apa cita-citanya? "Saya
ingin buka toko tekstil sendiri," kata Diny yang sedang bersiap-siap
merintis usaha sabun colek.