Jumat, 06 Januari 2012

Ketika Mahasiswa Kuliah Sambil Bisnis

Kekurangan biaya bukan berarti tak bisa meneruskan pendidikan sampai perguruan tinggi. Sebuah lembaga menawarkan program Mahasiswa Marginal yang intinya mahasiswa bisa kuliah sambil kerja. Lembaga ini memberi pelatihan sekaligus modal usaha. Ratusan mahasiswa ekonomi lemah tertarik mengikutinya.

Di kalangan perguruan tinggi di Medan (Sumut) ada istilah yang populer yaitu Mahasiswa Marginal (MM). Apa artinya? "Mahasiswa yang punya potensi, motivasi, dan kreativitas tinggi. Namun, karena kemampuan ekonomi orang tua rendah, ia gigih melakukan berbagai usaha untuk memenuhi kebutuhan kuliah lewat usaha yang digelutinya. Usaha, mereka juga kebanyakan skala kecil," jelas Iswan Kaputra, salah seorang koordinator program MM.

Program ini menurut Iswan berawal dari kegelisahan Ir. Soekirman MM karena pemerintah atau institusi lain kurang memikirkan mahasiswa yang berasal dari keluarga pas-pasan. Mei 1989, Soekirman bersama rekan-rekannya mendirikan Yayasan Bitra Indonesia (YBI) untuk membantu mahasiswa kurang mampu. "Programnya diberi nama Pelayanan Wirausaha Konsultasi dan Pengembangan Studi Mahasiswa Marginal yang disingkat MM," lanjut Iswan.

Menurut Iswan, salah satu tujuan program adalah mengembangkan lapangan kerja di sektor informal untuk meningkatkan kesejahteraan si mahasiswa. "Juga menumbuhkan jiwa kewirausahaan pada mahasiswa," cetus ayah dua putra ini. Iswan melanjutkan, "Usahanya bermacam-macam. Antara lain menarik becak, ternak ayam, jual rokok, parfum, buku, majalah bekas, loper koran, menjahit dan lain-lain. Ada 63 jenis usaha."

TERGOLONG MAHASISWA GIGIH

Program ini ternyata menarik minat para mahasiswa. Sekarang, ada 234 anggota MM yang terdiri dari mahasiswa PTN dan PTS. "Di antara mereka, ada 50 yang jadi penarik becak. Jadi, mereka tergolong mahasiswa gigih. Bayangkan, betapa repotnya mereka sehari-hari bagi waktu antara kuliah, bisnis, dan berbagai kegiatan lain. Apalagi bagi mahasiswa dari luar kota yang harus masak dan cuci sendiri," papar Iswan.

Ada beberapa syarat mahasiswa bergabung dengan YBI. Yang terutama, "Kami harus tahu mahasiswa itu betul-betul tak mampu dan tidak mendapat subsidi dari orang tua. Mereka juga sudah memiliki usaha kecil-kecilan di Medan dan sudah jalan tiga bulan. Nah, mereka kami bantu modal sebesar maksimal Rp 1,5 juta. Sebelumnya kami membekali dengan pelatihan, diskusi, magang, dan studi banding."

Syarat lain, mahasiswa harus sudah semester 2 - 7 untuk S1. Sedangkan mahasiswa D3 semester 2 - 3. IP mereka minimal 2,0. "Mereka juga harus dapat persetujuan dekan, pembantu dekan, atau ketua jurusan dan disetujui orang tua," papar Iswan panjang lebar.

Kelebihan program MM, kata Iswan, mahasiwa tidak memerlukan jaminan aset atau pinjaman. Mereka hanya dikenakan bunga 12 persen per tahun dalam jangka waktu 6 - 24 bulan. "Jika anggota program membandel mengangsur atau tidak melunasi, kami nanti menahan ijazah mereka. Itu sebabnya, pihak fakultas dilibatkan dalam syarat pinjaman kredit," tutur Iswan.

JADI NARA SUMBER

Salah seorang mahasiswa yang ikut program MM adalah Husni Kamarhaban Siregar (21). Semangatnya untuk maju sudah diperlihatkan sejak STM. Waktu itu, ia kerja di bengkel. "Lulus STM saya terus memikirkan bagaimana bisa kuliah. Ayah, kan, sudah pensiun. Ayah hanya bisa memberikan uang untuk biaya pendaftaran dan uang kuliah pertama saja sebesar Rp 1 juta. Saran Ayah, saya harus cari biaya sendiri jika ingin kuliah," ujar pria asal Rantau Prapat ini.

Ibarat pucuk dicinta ulam tiba, ada teman Husni yang memperkenalkannya dengan program MM. "Dia sudah duluan ikut program ini. Jadi, saya tahu apa keuntungannya bergabung," ujar Husni yang memilih usaha ternak ayam kampung. Ia dapat modal Rp 500 ribu.

Berkat ilmu yang didapat dari STM, pria yang masih tetap kerja di bengkel ini sanggup membuat alat penetasan sendiri. Satu kotak berisi 400 - 450 telur. Ia mengaku tugasnya setiap pagi membolak-balikkan telur ayam. "Biasanya dalam satu kotak yang rusak cuma 20 butir. Telur ayam yang tidak bisa menetas akan saya jual," lanjut Husni.

Husni mengaku, ia tidak sulit memasarkan ayam kampungnya. "Ayam saya sudah ada yang nampung di Pasar Pagi Brayan," katanya. Ia tinggal menghitung keuntungannya. "Cukuplah untuk membayar uang kuliah dan kebutuhan sehari-hari," cetus bungsu dari empat bersaudara ini.

Usaha Husni dipandang cukup sukses. Terbukti dua bulan lalu ia diminta jadi nara sumber untuk program acara mahasiswa dan usaha di Istana Radio FM. Sehari setelah acara mengudara, "Saya ditelepon seseorang. Dia mau memberi pinjaman dana untuk mengembangkan usaha. Saya juga dikontrakkan rumah," kata Husni yang sekarang tinggal di rumah kontrakan, tak jauh dari kampusnya di Jln. Bromo Medan.

Sudah puaskah Husni? "Siapa, sih, orang yang sudah puas kalau semua yang dilakukan masih setengah jalan. Saya maunya menyelesaikan kuliah tepat waktu. Ada satu lagi keinginan, saya ingin buka kafe," harap Husni. Karena sibuk kerja dan kuliah, Husni ibarat tak punya waktu libur. "Bila pun libur, saya tidak punya waktu untuk pulang kampung."

PINTAR ATUR WAKTU

Bila Husni memilih usaha ternak, Diny Setianingrum (23) membuka usaha warung kopi. Selain itu, ia juga ikut Multi Level Marketing yang sudah ia jalani sejak SMU. "Maklum, sejak SD saya sudah punya jiwa dagang. Waktu itu, saya ikut tetangga membuat aksesoris. Apalagi, keluarga saya punya moto tak usah jadi pegawai negeri. Makanya saya ingin berwiraswasta saja," kisah Diny.

Mahasiswi Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatera Utara ini, berprinsip untuk meraih sukses mesti melalui berbagai tahapan. "Maksudnya, saya harus ikut pontang-panting ke lapangan dan harus mau menerima untung cuma seribu rupiah," ujar Diny yang sejak kelas I SMU sudah ikut berdagang MLM untuk alat kecantikan. "Dagangan saya yang laris parfum."

Lulus SMU, Diny mengambil program D3. Meski sudah menyelesaikan pendidikannya sulung dari lima bersaudara ini belum puas. Ia kuliah lagi di Fakultas Ekonomi, USU. "Saya ikut kuliah malam ambil program Extension selama dua tahun. Sekarang baru semester pertama. Untuk tambah biaya, mulai tahun lalu saya buka usaha warung kopi dekat kampus saya," kata gadis manis berkulit putih ini.

Meski termasuk anggota MM, Diny tak perlu pinjam modal. Dari hasil usahanya selama ini, ia sudah cukup punya modal. Apalagi usaha MLM-nya juga masih berjalan. Ada kiat khusus yang dilakukan Diny agar usahanya berjalan lancar. "Saya suka ikut organisasi. Makanya saya jadi banyak teman."

Warga Perumnas Simalingkar ini menambahkan, ia ingin kuliah dan usahanya berjalan lancar. Itu sebabnya, ia tak mengeluh meski tak banyak waktu untuk bersantai. "Kalau masalah itu, sih, pintar-pintar kita mengatur waktu. Kalau ada urusan yang tidak boleh ditinggalkan, ya untuk urusan lain disingkirkan dulu. Yang penting semua itu saya lakukan dengan enjoy," ujar Diny yang membuka warung bersama kekasihnya, Doli, dan rekannya Andi Mako.

Dari hasil usahanya, Diny tak sekadar bisa memenuhi kebutuhan uang kuliah. Ia juga bisa menabung. Tak heran, di program MM ia ditunjuk jadi relawan. Lantas apa cita-citanya? "Saya ingin buka toko tekstil sendiri," kata Diny yang sedang bersiap-siap merintis usaha sabun colek.